Peduli Korban Bencana Alam, HMI MPO Cabang Madina Galang Dana

Sumatera Utara, Mandailing Natal – Bencana alam yang melanda sebagian daerah di Indonesia jelang penghujung tahun 2025 ini khususnya di wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi duka bagi kita semua. Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Cabang Kabupaten Madina pun turun mengadakan aksi penggalangan dana untuk korban banjir dan tanah longsor.

Aksi galang dana pertama ini mulai digelar disekitaran pinggiran jalan raya lintas sumatera dan Pujasera yang berlokasi di belakang Mesjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina, pada Jum’at 28 Nopember 2025.

Semangat mahasiswa ini terlihat mereka menggunakan atribut dan wadah kotak yang terbuat dari kardus. Sambil tersenyum mereka menyapa pengguna jalan, pedagang dan masyarakat sambil menyodorkan kardus agar menyumbangkan donasinya untuk para korban banjir dan tanah longsor.

Saat HMI MPO cabang Mandailing Natal keliling menggalang dana di lokasi UMKM, Pujasera Mesjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan pada Jum’at (28/11/2025). [Foto: Joki Nasution].
Menurut Haisar Aslam, Ketua HMI MPO Cabang Madina yang turun langsung galang dana ini mengatakan bahwa mereka bermurah hati turun langsung kelapangan menggalang dana.

“Kami berharap dengan aksi ini dapat meringankan beban para keluarga sanak saudara korban yang tertimpa musibah,” katanya.

Aslam juga menuturkan aksi galang dana ini sekaligus tindaklanjut instruksi pengurus besar dari HMI MPO pusat.

“Pengalangan dana awal ini akan dilakukan selama tiga hari mulai hari ini, Jum”at hingga Minggu (28-30 Nopember 2025) dengan mengambil titik awal lokasi di sekitaran Mesjid Agung Nur Ala Nur, hari kedua di sekitar titi kuning Dalan Lidang, dan hari ketiga di sekitar Pasar Baru Panyabungan,” jelas Aslam.

Seluruh donasi yang terkumpul akan mereka sampaikan secara langsung kepada pihak yang berwajib memerlukan bantuan.

“Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban para korban banjir. Kami juga turut berbelasungkawa sebesar-besarnya dan ikut prihatin, semoga para korban sabar dan tabah,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Dalam beberapa hari terakhir sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Sumut mengalami cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur selama tiga hari berturut-turut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut dalam laporannya mengatakan ada sejumlah wilayah di sembilan kabupaten/kota dilanda banjir dan tanah longsor, antara lain Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Padang Sidimpuan, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Mandailing Natal.

Dampak banjir dan tanah longsor mengakibatkan akses antar pemukiman terputus. Salah satu kondisi paling serius terjadi di wilayah Kabupaten Madina hingga ditetapkan menjadi Status Tanggap Darurat. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Madina, Saipullah Nasution, usai memimpin rapat koordinasi bersama Forkopimda dan pimpinan OPD pada Rabu (26/11/2025) kemarin.

Langkah tersebut diambil Pemkab Madina setelah menerima laporan lengkap dari OPD terkait dan adanya sejumlah titik longsor yang mengakibatkan akses transportasi terputus. “Kami resmi menetapkan Status Tanggap Darurat agar penanganan bisa lebih cepat,” kata Saipullah.

Bupati menjelaskan pihaknya bersama Forkopimda akan menentukan langkah strategis dalam penanganan bencana.

Pemkab Madina juga resmi membuka Posko Penanganan Bencana Daerah di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Desa Parbangunan, Panyabungan, Kamis (27/11/2025). Dengan layanan call center di nomor 082165951692, 082276188736, dan 085143188242.

Posko ini untuk membuka ruang bagi masyarakat menyampaikan kondisi terkini di daerahnya sehingga bisa segera ditangani.

Saat Rakor tingkat Menteri untuk Penanganan Bencana, pada Kamis (27/11/2025) kemarin, Bupati Saipullah melaporkan bahwa sebanyak 49 desa yang tersebar di 19 kecamatan di Madina terdampak banjir, tanah longsor, atau puting beliung. Sementara itu, 6.200 orang berada di pengungsian atau terpaksa dievakuasi.

Mungkin Anda Menyukai