Buku “Iran Pasca Revolusi Islam” Layak Menjadi Referensi Penting Memahami Politik Timur Tengah

- Jurnalis

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Iwan Setiawan, Alumni Hubungan Internasional UMY

Terbitnya buku “Iran Pasca Revolusi Islam: Ideologi, Dinamika Politik dan Demokratisasi” karya Suhari Hammad Hira Pane merupakan kabar yang menggembirakan, bukan hanya bagi kalangan akademisi, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami perkembangan politik Timur Tengah secara lebih objektif dan mendalam.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali menghadirkan Iran hanya dari sudut pandang konflik, sanksi ekonomi, program nuklir, maupun rivalitas geopolitik dengan negara-negara Barat, kehadiran buku ini memberikan perspektif yang berbeda. Buku ini mengajak pembaca kembali kepada akar persoalan, yaitu bagaimana Revolusi Islam Iran lahir, bagaimana ideologi negara tersebut dibangun, serta bagaimana praktik politik dan demokratisasi dijalankan dalam sistem Republik Islam Iran.

Sebagai alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya mengenal Suhari Pane sebagai pribadi yang memiliki minat besar terhadap studi Timur Tengah. Ketekunannya dalam membaca literatur, mengkaji dinamika politik kawasan, dan menelaah berbagai teori hubungan internasional tercermin dalam karya ini. Apa yang dahulu merupakan skripsi sarjana, kini hadir dalam bentuk buku yang tetap relevan bahkan puluhan tahun setelah pertama kali ditulis.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya ilmiah yang disusun dengan ketelitian, didukung argumentasi yang kuat, dan berlandaskan sumber-sumber akademik yang memadai akan mampu melampaui batas waktu. Justru dalam konteks perkembangan geopolitik dunia saat ini, isi buku ini menjadi semakin penting untuk dibaca.

Revolusi Islam Iran tahun 1979 merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah politik modern. Revolusi tersebut tidak sekadar mengganti pemimpin negara, tetapi mengubah secara fundamental sistem pemerintahan dari monarki absolut Dinasti Pahlavi menjadi Republik Islam yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi konstitusi dan penyelenggaraan negara.

Perubahan tersebut memunculkan banyak pertanyaan yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi para ilmuwan politik. Apakah sistem politik berbasis Islam mampu berjalan berdampingan dengan demokrasi? Bagaimana konsep kedaulatan rakyat diterjemahkan dalam negara yang juga memberikan posisi sentral kepada ulama? Bagaimana Iran mempertahankan kedaulatan politiknya di tengah tekanan negara-negara besar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas secara sistematis dalam buku ini. Penulis tidak terjebak pada sikap memuja ataupun menghakimi Iran. Sebaliknya, pembaca diajak melihat realitas secara akademik melalui pendekatan ilmu hubungan internasional dan ilmu politik.

Baca Juga :  Hj.Yeti Rachmawati,.SE Caleg No Urut 3 Dari Partai Gerindra Karawang Siap Berjuang untuk Masyarakat Dapil 5

Hal lain yang membuat buku ini menarik adalah keberaniannya mengkritisi cara pandang yang selama ini berkembang dalam politik internasional. Selama beberapa dekade, demokrasi sering dipersepsikan identik dengan liberalisme Barat, sementara sistem politik yang berlandaskan Islam kerap dicap tidak demokratis. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat persoalan tersebut secara lebih kritis.

Di sisi lain, sejarah juga memperlihatkan bahwa negara-negara Barat yang sering mengusung demokrasi dalam retorika politik luar negeri tidak selalu konsisten dalam praktiknya. Dukungan terhadap rezim-rezim otoriter di berbagai kawasan menjadi fakta yang menunjukkan bahwa kepentingan geopolitik sering kali lebih dominan dibandingkan komitmen terhadap demokrasi.

Dalam konteks itulah Iran menjadi studi kasus yang menarik. Negara ini terus menghadapi embargo ekonomi, tekanan diplomatik, hingga berbagai bentuk isolasi internasional. Namun demikian, Republik Islam Iran tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai negara yang memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah.

Membaca buku ini juga membantu kita memahami mengapa Iran memiliki posisi strategis dalam berbagai konflik regional. Mulai dari hubungan dengan Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, hingga rivalitas dengan Israel dan Amerika Serikat, seluruhnya tidak dapat dipahami hanya dari pemberitaan media harian. Diperlukan pemahaman historis dan ideologis yang menjadi fondasi kebijakan luar negeri Iran.

Karena itu, ketika dunia menyaksikan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel ataupun berbagai dinamika keamanan di Timur Tengah, buku ini menjadi referensi yang sangat relevan. Pembaca akan memperoleh gambaran mengenai akar pemikiran politik Iran sehingga mampu memahami mengapa negara tersebut mengambil berbagai kebijakan strategis yang sering kali berbeda dengan negara-negara lain.

Saya juga memberikan apresiasi kepada pihak penerbit yang telah memiliki komitmen menerbitkan karya akademik ini menjadi sebuah buku. Langkah tersebut merupakan kontribusi nyata dalam memperkaya literatur hubungan internasional berbahasa Indonesia. Selama ini referensi mengenai Iran masih relatif terbatas, sehingga kehadiran buku ini menjadi tambahan yang sangat berharga.

Apresiasi yang sama juga patut diberikan kepada Agus Marwan yang memiliki inisiatif untuk menghidupkan kembali naskah skripsi ini, kepada Ardy Lubis yang bersedia menerbitkannya, kepada Syeikh Faisal Riza yang memberikan prolog, serta seluruh pihak yang telah membantu hingga buku ini hadir di tangan pembaca.

Baca Juga :  Dukungan Terus Mengalir, Hj.Yeti Rachmawati P.Gerindra Kian Mantap Menuju Kursi DPRD Karawang

Lebih dari itu, terdapat nilai kemanusiaan yang sangat menyentuh dalam proses penerbitan buku ini. Sebagian hasil penjualan buku akan diberikan kepada penulis, Suhari Hammad Hira Pane, yang saat ini sedang berjuang memulihkan kesehatannya akibat stroke. Hal tersebut menunjukkan bahwa dunia literasi bukan sekadar ruang produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang solidaritas dan kepedulian antarsesama.

Kisah Suhari Pane juga memberikan pelajaran penting bagi generasi muda. Sebuah karya ilmiah tidak pernah kehilangan nilainya selama tetap mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Skripsi yang dahulu disusun sebagai syarat memperoleh gelar akademik, kini berubah menjadi buku yang dapat dibaca oleh publik luas dan menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun masyarakat umum.

Saya berharap buku ini dapat dibaca secara terbuka, kritis, dan objektif. Pembaca tidak harus selalu sepakat dengan seluruh isi buku, tetapi melalui karya ini kita diajak memahami sebuah negara dari sudut pandangnya sendiri, bukan semata-mata melalui narasi yang dibangun pihak lain.

Di era ketika arus informasi begitu cepat dan opini sering kali mengalahkan fakta, kehadiran karya ilmiah seperti ini menjadi sangat penting. Buku ini mengingatkan kita bahwa memahami politik internasional memerlukan kedalaman analisis, ketelitian membaca sejarah, dan keberanian melihat berbagai perspektif.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku “Iran Pasca Revolusi Islam: Ideologi, Dinamika Politik dan Demokratisasi” karya Suhari Hammad Hira Pane. Semoga buku ini menjadi referensi yang bermanfaat bagi dunia akademik Indonesia, memperkaya khazanah kajian hubungan internasional, serta mendorong lahirnya diskusi-diskusi ilmiah yang lebih objektif mengenai Iran, Timur Tengah, Islam, demokrasi, dan dinamika politik global.

Semoga karya ini menjadi amal ilmu yang terus mengalir manfaatnya, sekaligus menjadi penyemangat bagi Bung Suhari Pane untuk terus berkarya dan pulih sepenuhnya. Selamat membaca, selamat berdiskusi, dan selamat memperluas cakrawala berpikir melalui buku yang sangat berharga ini.

Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊