Milangkala Tatar Sunda Diharapkan Jadi Agenda Tahunan dengan Perencanaan Lebih Matang
KARAWANG – Perhelatan budaya bertajuk Milangkala Tatar Sunda yang dirangkaikan dengan Kirab Mahkota Binokasih tengah menjadi sorotan publik di Jawa Barat. Acara yang digelar secara megah dan sarat simbol budaya tersebut menuai beragam tanggapan, khususnya dari kalangan praktisi dan pengamat seni budaya Sunda.
Di satu sisi, kegiatan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mengangkat kembali kejayaan dan identitas Tatar Sunda melalui simbol Mahkota Binokasih.
Namun dari sudut pandang lain, sejumlah praktisi menilai pelaksanaannya masih minim literasi sejarah dan terlalu menitikberatkan pada aspek seremonial, sehingga berpotensi mengaburkan makna utama dari konsep napak tilas sejarah Tatar Sunda.

Salah satu kritik disampaikan oleh Gunawan, praktisi seni dan budaya asal Kabupaten Karawang. Ia menilai bahwa pelaksanaan kegiatan terkesan tergesa-gesa dan kurang melalui perencanaan yang matang.
“Acara ini terlihat minim persiapan. Beberapa kali terjadi miskomunikasi, bahkan jadwal dan lokasi acara berubah-ubah. Di Karawang sendiri sudah tiga kali terjadi perubahan jadwal dan tempat,” ujarnya, Senin 4 !ei 2026.
Gunawan mencontohkan, sebelumnya telah tersebar informasi bahwa agenda di Karawang akan dilaksanakan di Makam Syaikh Quro Pulobata, yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam dan peradaban Sunda. Namun, lokasi tersebut kemudian dialihkan ke Hotel Horizon Karawang, yang dinilai tidak memiliki relevansi langsung dengan tema Napak Tilas Sejarah Tatar Sunda.
“Ini tentu menjadi bahan evaluasi bersama. Jika mengusung tema napak tilas, maka semestinya lokasi dan rangkaian acara benar-benar selaras dengan nilai sejarah dan filosofi Sunda,” tegasnya.
Meski demikian, Gunawan tetap memberikan apresiasi kepada Gubernur Jawa Barat yang menginisiasi Milangkala Tatar Sunda dengan menghadirkan Mahkota Binokasih sebagai lambang kejayaan Sunda. Selain itu, keterlibatan berbagai kesenian dan kebudayaan Sunda dinilai mampu menghidupkan kembali ruang ekspresi budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelaku UMKM lokal.
“Ini langkah baik dan patut diapresiasi. Budaya diangkat, UMKM bergerak, masyarakat terlibat,” tambahnya.
Ke depan, Gunawan berharap Milangkala Tatar Sunda dapat dijadikan agenda tahunan yang lebih matang secara konsep dan teknis.
Ia menekankan pentingnya komunikasi intensif, kajian sejarah yang mendalam, serta perencanaan yang rapi agar acara dapat berlangsung merenah tanpa mengurangi nilai-nilai luhur dan jejak sejarah Tatar Sunda.
“Jangan sampai karena tergesa-gesa, justru ada nilai sejarah penting yang terlewatkan,” pungkasnya.
Reporter: Hasanudin

