PURWAKARTA — Warga di tiga desa wilayah Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, seolah tengah diuji tingkat kesabaran dan kehati-hatiannya setiap hari. Jalur utama yang menghubungkan Kampung Sindang Aso (Desa Sindangsari), Kampung Sawah Lega dan Babakan Sawah (Desa Gandamekar), hingga Kampung Cileutak (Desa Rawasari), kini berubah menjadi lintasan penuh tantangan, terutama saat musim hujan tiba.
Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas masyarakat justru dipenuhi kubangan air dan lubang-lubang yang tersembunyi rapi di balik genangan. Kondisi ini menuntut konsentrasi tinggi bagi para pengendara, khususnya para pelajar dan petani yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya pada akses tersebut.
Tak jarang mereka harus berjudi dengan keselamatan saat melintasinya. Jalur Strategis yang terabaikan secara geografis dan fungsional, jalur ini memiliki peran yang sangat penting.
Dari arah utara ke selatan, jalan tersebut menjadi akses utama para siswa menuju SMKN 1 Plered. Sementara dari arah selatan ke utara, jalur ini menghubungkan masyarakat ke berbagai institusi pendidikan ternama, seperti Yayasan Al Azhar, SMAN 1 Plered, SMPN 1 Plered, SMA Pasundan, MTsN 2 Purwakarta, hingga akhirnya terhubung ke Jalan Raya Plered–Warungkandang.
Dengan banyaknya sekolah unggulan yang bergantung pada akses ini, kondisi jalan yang rusak parah jelas menjadi ironi. Jalur yang seharusnya mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia justru menyimpan risiko keselamatan bagi pengguna jalan,
Ujian Konsentrasi di Tengah Genangan
Saat hujan turun, wajah jalan ini berubah drastis. Genangan air menutup permukaan lubang-lubang aspal sehingga sulit dibedakan antara jalan yang masih layak dilalui dan yang berbahaya. Akibatnya, pengendara kerap terperosok, tergelincir, bahkan mengalami kerusakan kendaraan.
Asep Ujang, warga Kampung Tegal Tengah, mengungkapkan keluh kesahnya dengan nada tenang namun penuh harap.
“Kalau hujan, lubangnya sama sekali tidak kelihatan karena tertutup air. Sangat membahayakan, apalagi untuk anak-anak yang berangkat sekolah dan petani yang membawa hasil panen. Kami berharap pemerintah daerah dan dinas terkait bisa segera memperbaiki,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Rudi Susanto, yang hampir setiap hari melewati jalur tersebut.
“Kalau kering, debu dan batu kecil sangat mengganggu. Kalau hujan, becek dan licin, bahkan pernah motor saya terperosok sampai mesin mati. Ini sangat berbahaya. Semoga segera ada perbaikan demi keselamatan warga,” tuturnya.
Harapan Warga pada Pemerintah Daerah
Secara umum, kelancaran akses jalan di wilayah pedesaan menjadi kunci utama perputaran roda ekonomi pertanian dan efisiensi pendidikan. Jalan yang layak akan mempercepat distribusi hasil panen, memudahkan aktivitas belajar, serta meningkatkan rasa aman bagi masyarakat.
Kini, warga Desa Sindangsari, Gandamekar, dan Rawasari menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Purwakarta agar kondisi jalan tersebut segera mendapat perhatian serius.
Mereka berharap sisa-sisa aspal yang memprihatinkan itu dapat segera diperbaiki, sehingga senyum para siswa yang berangkat sekolah dan para petani yang menuju sawah kembali merekah, tanpa dihantui rasa cemas setiap kali hujan turun.
Reporter: Junaedi/Isep

