KARAWANG – Semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda terus ditanamkan kepada generasi muda melalui dunia pendidikan. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Cilamaya Wetan, yang berlangsung semarak dengan melibatkan puluhan siswa sekolah dasar dari berbagai wilayah, Kamis 6 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Bapopsi Kecamatan Cilamaya Wetan dengan berkolaborasi bersama FKKG dan KKG Bahasa Sunda. Sebanyak 80 peserta dari 36 sekolah dasar (SD) ambil bagian dalam berbagai cabang perlombaan yang mengangkat bahasa, sastra dan budaya Sunda. Sejumlah kategori lomba yang dipertandingkan meliputi sajak, carpon, pupuh, biantara, dongeng, borangan (ngabodor sorangan), serta nulis aksara Sunda.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Korwildik 6 H. Mayudin, S.Pd. Kehadiran Korwildik 6 sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta, guru pendamping dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan FTBI.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, H. Mayudin, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan FTBI yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan bahasa ibu, khususnya bahasa Sunda, di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi penerus. Karena itu, sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan ruang kepada siswa untuk mengenal sekaligus mempraktikkan bahasa Sunda melalui kegiatan yang menyenangkan dan edukatif.

“FTBI ini bukan hanya perlombaan untuk mencari siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak kita mengenal, mencintai dan mampu menggunakan bahasa ibu, khususnya bahasa Sunda,” ujar H. Mayudin saat membuka kegiatan.
Ia juga memberikan semangat kepada seluruh peserta agar tidak menjadikan perlombaan sebagai beban. Menurutnya, setiap siswa yang tampil sudah merupakan bagian dari keberhasilan dalam menjaga dan melestarikan bahasa serta budaya daerah.
“Anak-anak harus berani tampil dan percaya diri. Jangan takut salah. Jadikan kegiatan ini sebagai pengalaman, sebagai tempat belajar dan mengembangkan bakat. Yang terpenting adalah semangat dan kecintaan terhadap bahasa serta budaya Sunda,” katanya.
H. Mayudin juga berharap para guru pendamping terus memberikan pembinaan kepada siswa sehingga potensi yang dimiliki dapat berkembang. Menurutnya, kemampuan berbahasa, bersastra dan berkesenian perlu terus diasah sejak usia sekolah dasar.
“Semoga dari kegiatan ini lahir anak-anak yang memiliki prestasi dan mampu membawa nama baik Kecamatan Cilamaya Wetan. Bagi yang nantinya menjadi juara dan mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara FTBI Kecamatan Cilamaya Wetan, Wawan Susanto, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan kreativitasnya dalam bidang bahasa serta sastra Sunda.
Menurut Wawan, keberagaman cabang perlombaan memberikan kesempatan kepada siswa dengan berbagai potensi untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ada siswa yang memiliki kemampuan berbicara melalui biantara, ada yang memiliki kemampuan seni melalui pupuh dan sajak, serta ada pula yang memiliki kreativitas dalam dongeng, borangan maupun penulisan aksara Sunda.
“FTBI ini kami laksanakan sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa ibu. Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan menjunjung sportivitas,” ungkap Wawan.
Ia menambahkan, keterlibatan 80 peserta dari 36 SD menunjukkan tingginya antusiasme sekolah dan para guru dalam mendukung pelestarian bahasa Sunda.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, terutama Bapopsi, FKKG, KKG Bahasa Sunda, Korwildik, K3S, sekolah, guru pembimbing dan orang tua siswa.
Sementara itu, Ketua K3S Kecamatan Cilamaya Wetan, Tarim, S.Pd., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan FTBI.
Tarim menilai kegiatan tersebut sangat positif karena tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya Sunda.
“Apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia, Bapopsi, FKKG, KKG Bahasa Sunda, para kepala sekolah, guru pembimbing dan seluruh peserta. FTBI ini sangat penting untuk menjaga bahasa ibu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus,” kata Tarim.
Menurutnya, bahasa Sunda harus terus diperkenalkan melalui berbagai kegiatan yang kreatif sehingga siswa tidak merasa bahwa bahasa daerah merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman.
Dengan adanya FTBI, siswa justru dapat belajar bahasa Sunda dengan cara yang lebih menarik, mulai dari tampil membaca sajak, membawakan pupuh, berpidato atau biantara, mendongeng, membuat carpon, melakukan borangan hingga mengenal dan menulis aksara Sunda.
Juara pertama dari masing-masing cabang perlombaan nantinya akan dipersiapkan untuk mewakili Kecamatan Cilamaya Wetan pada FTBI tingkat Kabupaten Karawang yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026.
Karena itu, persaingan dalam FTBI tingkat kecamatan bukan hanya tentang mendapatkan piala, melainkan juga menjadi tahapan untuk mencari siswa-siswa terbaik yang akan membawa nama Kecamatan Cilamaya Wetan ke tingkat Kabupaten Karawang.
Para juara diharapkan dapat terus mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari guru masing-masing agar semakin siap menghadapi kompetisi di tingkat kabupaten.
Pelaksanaan FTBI ini sekaligus menjadi bukti bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Melalui bahasa ibu, siswa diajak mengenal identitas daerah sekaligus memahami bahwa bahasa Sunda memiliki kekayaan sastra dan budaya yang patut dijaga.
Dengan kolaborasi antara Bapopsi, FKKG dan KKG Bahasa Sunda serta dukungan Korwildik dan K3S Kecamatan Cilamaya Wetan, FTBI diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Dari ajang tersebut, bukan hanya juara yang diharapkan lahir, tetapi juga generasi muda yang percaya diri, kreatif, berprestasi dan bangga menggunakan serta melestarikan bahasa Sunda sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. (*)
Berita Terkait
















Komentar