Edukasi Hukum Waris Islam: Pembagian Warisan Suami Meninggal untuk Istri dan Anak

- Jurnalis

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Edukasi Hukum Waris Islam: Pembagian Warisan Suami Meninggal untuk Istri dan Anak

 

Hukum waris dalam Islam telah diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam membagikan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia.

Di Indonesia, ketentuan tersebut juga diperkuat melalui Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menjadi rujukan dalam penyelesaian perkara waris bagi umat Islam.

Dasar Hukum:

1. Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 11–12.

2. Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia.

Dalam kasus seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris berupa seorang istri (janda) serta anak-anak, maka pembagian waris dilakukan sesuai ketentuan syariat Islam.

Baca Juga :  Karang Taruna Karawang Bentuk Satgas SPMB 2026, Tegaskan Tak Cawe-cawe Seleksi Siswa

Ahli Waris yang Ditinggalkan:

. Istri (janda).
. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Ketentuan Pembagian Waris:

1. Bagian Istri (Janda)
Apabila pewaris meninggalkan anak, maka istri memperoleh 1/8 (seperdelapan) dari seluruh harta warisan.

. Apabila pewaris tidak meninggalkan anak, maka istri memperoleh 1/4 (seperempat) dari harta warisan.

2. Bagian Anak-anak Setelah bagian istri diambil sesuai ketentuan, sisa harta warisan dibagikan kepada anak-anak.

Baca Juga :  Rayakan Hari Jadinya Solidaritas Pekerja Seni Bersatu (SPSB) Galang Dana Untuk Santuni Anak Yatim

Dalam Islam berlaku prinsip bahwa anak laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat dibandingkan anak perempuan, sebagaimana ditegaskan dalam Surat An-Nisa ayat 11.

Ketentuan tersebut merupakan bagian dari syariat Islam yang bertujuan memberikan keadilan sesuai dengan hak dan tanggung jawab masing-masing ahli waris.

Oleh karena itu, pembagian warisan hendaknya dilakukan secara musyawarah, transparan, dan berpedoman pada ketentuan hukum Islam agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

Penulis:
Kusdiawan, S.H.
Kabiro Garut

Berita ini 42 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊