KARAWANG – Pemerintah Desa Desa Gembongan menggelar acara Hajat Bumi pada Rabu, 24 Juni 2026, bertempat di Bumi Perkemahan Gembongan, tepatnya di depan Kantor Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.
Kegiatan ini berlangsung penuh kekhidmatan dengan nuansa religius yang kuat, dipadukan dengan nilai-nilai budaya sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan karunia-Nya, khususnya hasil pertanian yang melimpah dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai dusun di Desa Gembongan tampak antusias memadati lokasi acara.


Dengan penuh keikhlasan, warga membawa nasi tumpeng dan berbagai hidangan tradisional untuk mengikuti tradisi bebaritan, sebuah tradisi turun-temurun yang sarat makna kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur.

Bebaritan menjadi simbol persatuan warga dalam mengakui bahwa rezeki hasil bumi merupakan titipan dan anugerah dari Allah SWT.
Rangkaian acara diawali dengan ritual yang dipimpin oleh ketua adat Desa Gembongan. Suasana khusyuk menyelimuti area perkemahan saat lantunan kalimat tahlil menggema, diikuti doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap agar Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan, keselamatan, dan perlindungan bagi seluruh masyarakat desa.
Pembacaan tahlil dan doa kemudian dilanjutkan oleh ustaz setempat. Dalam doanya, dipanjatkan permohonan agar hasil pertanian yang telah diperoleh membawa manfaat, para petani diberikan kesehatan dan kekuatan, serta Desa Gembongan dijauhkan dari segala bentuk bencana dan musibah.
Doa juga dipanjatkan agar generasi muda tetap menjaga nilai-nilai keimanan, akhlak, dan tradisi luhur warisan leluhur.
Usai doa bersama, masyarakat berkumpul di lokasi bebaritan. Nasi tumpeng yang telah didoakan kemudian saling ditukar antarwarga tanpa memandang latar belakang.
Hidangan tersebut selanjutnya dimakan bersama-sama, menciptakan suasana keakraban, persaudaraan, dan kebahagiaan yang sederhana namun sarat makna.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Gembongan menyampaikan sambutan dan pesan kepada seluruh masyarakat. Ia menegaskan bahwa Hajat Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum spiritual untuk mengingat kebesaran Allah SWT serta pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Hajat Bumi ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas hasil pertanian yang Alhamdulillah cukup baik. Semoga apa yang kita laksanakan hari ini menjadi amal ibadah, mempererat silaturahmi, serta membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh warga Desa Gembongan,” ujarnya.
Lebih lanjut, kepala desa juga berharap agar tradisi Hajat Bumi terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang bernilai luhur. Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan, kerukunan, dan kepedulian terhadap lingkungan, karena alam yang terjaga dengan baik akan membawa manfaat besar bagi kehidupan bersama.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, acara Hajat Bumi dimeriahkan dengan pementasan wayang golek semalam suntuk yang dibawakan oleh dalang kondang Dadan Sunandar Sunarya, putra dari Giri Harja 3.
Pementasan wayang golek ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarat dengan pesan moral, tuntunan kehidupan, serta nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan Hajat Bumi ini, Pemerintah Desa Gembongan bersama masyarakat berharap agar desa senantiasa diberkahi Allah SWT, diberikan hasil bumi yang melimpah, kehidupan yang harmonis, serta kekuatan untuk terus menjaga tradisi religi dan budaya sebagai identitas dan jati diri masyarakat Desa Gembongan.
. Irwan
Berita Terkait
















Komentar