Beredar Video yang Memperlihatkan Perkelahian Antara dua Siswi SMP di Kecamatan Jayakerta, Salah Satunya Diduga Anak Kades

- Jurnalis

Kamis, 20 Maret 2025 - 09:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Beredar Video yang Memperlihatkan Perkelahian Antara dua Siswi SMP di Kecamatan Jayakerta, Salah Satunya Diduga Anak Kades

KARAWANG || Sebuah video yang memperlihatkan perkelahian antara dua siswi SMP di Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, kedua siswi terlihat saling baku hantam di area persawahan, sementara beberapa teman mereka hanya menyaksikan dan merekam tanpa berusaha melerai.

Kepala Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta, Saefi Anwar, membenarkan bahwa salah satu siswi yang terlibat adalah anaknya. Saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp pada Rabu (19/03/2025),

ia menyatakan akan berkonsultasi dengan pengacara sebelum memutuskan untuk membuat laporan kepolisian.

Baca Juga :  Kedua Kalinya SDN Sumurgede 1 Cilamaya Kulon Dibobol Maling, Kasek Minta Kepada Pihak Terkait Pengamanan Sekolah di Perketat

“Saya akan berkonsultasi dengan pengacara terlebih dahulu. Jika memang layak membuat laporan, maka akan saya lakukan. Jika tidak, ya tidak. Saya kurang paham hukum, jadi saya akan menanyakan dulu kepada ahlinya,” ujarnya.

Saefi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu dengan kepala sekolah tempat anaknya bersekolah. Ia memutuskan untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain guna menghindari kejadian serupa di masa depan.

“Anak saya pasti akan dipindahkan sekolahnya karena khawatir kejadian serupa terulang kembali. Saya juga tidak akan menuntut siswi lain untuk dikeluarkan dari sekolah,” jelasnya.

Baca Juga :  DPP IWO Indonesia Silaturahmi dan Beri Dukungan Jurnalis Tempo atas Teror Kepala Babi

Selain itu, sebagai orang tua, Saefi mengaku sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya.

“Sebagai orang tua, tentu saya merasa sedih. Anak yang saya besarkan sejak bayi harus mengalami perlakuan seperti ini. Hati saya menangis,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa istrinya sangat terpukul atas kejadian tersebut.

“Istri saya yang melahirkan dan menyusui anak kami. Ketika anaknya dianiaya, tentu dia sangat sakit hati,” tandasnya.
Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bagi pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat agar lebih peduli dalam mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan. (Bolenk)

Berita ini 3 kali dibaca